Waspada! Modus Penipuan Over Kredit di Bawah Tangan

modus penipuan over kredit

Butuh uang cepat? Nekat mau over kredit rumah, mobil, motor di bawah tangan, yakin? Baca tulisan ini sebelum anda menyesali keputusan yang anda buat. Jangan terlalu terburu-buru mengambil keputusan untuk melakukan over kredit kepada seorang pembeli, kenapa? Karena itu merupakan murni modus penipuan over kredit.

Alat penipuan yang digunakan pelaku penipuan (pembeli) biasanya adalah fotocopy KTP palsu, Surat perjanjian notaris palsu, dan beberapa dokumen palsu lainnya agar anda yakin.

Modus penipuan over kredit ini juga hampir dan bahkan nyaris saya alami. Kebetulan, saya dapat kabar dari teman bahwa ada orang yang ingin menjual mobil secara over kredit, lalu saya pun segera memasarkan mobil tersebut melalui internet.

Begini ceritanya …

Dalam waktu sehari saya dapat satu calon pembeli, yaitu teman saya sendiri dari komunitas. Hanya saja karena beliau sedang ada di luar kota, beliau cuma meminta nomor handphone saya untuk nanti diwakili oleh keluarga/ kerabatnya untuk lihat mobil secara langsung.

Besok atau lusa (saya sedikit lupa), saya dapat telepon dari calon pembeli. Nah, sebelumnya saya kira orang ini adalah perwakilan dari teman saya, ternyata bukan. Karena si calon pembeli yang baru ini agak bingung saat saya bilang ditelpon begini “Mbak yang mau lihat mobil, ya? Tahu dari (menyebut nama teman), kan? Malem ini deh mbak, bisa?”.

Dari situ, si calon pembeli baru itu menjelaskan kalo dia itu justru baru pertama kali menghubungi saya. Berarti bukan orang dari teman saya, jadi ini pembeli baru. Nah, calon pembeli baru ini si pelaku penipuan.

Hari itu juga, sekitar jam 20:05 WIB saya menghubungi penjual mobil.

Beliau (penjual) kebetulan sedang ada di (menyebut nama tempat), dan akhirnya saya meluncur ke TKP. Saat saya sampai di tempat tujuan si penjual ternyata sudah tidak ada (pulang). Karena saya memang agak lama, karena harus beberapa kali berhenti di pinggir jalan untuk membaca pesan masuk dan telepon dari si pembeli.

Langsung saja saya telepon si penjual, karena hari ini si pembeli memang ingin melihat mobilnya dan katanya butuh cepat. Si penjual menyetujui untuk kembali lagi ke tempat pertemuan, dan akhirnya kita semua berkumpul dan bernegosiasi di tempat yang sudah ditentukan.

Situasi sebelum penjual mobil datang ke tempat tujuan …

Si pembeli datang bertiga, satu perempuan (calon pembeli) dan dua orang lelaki, satu dari lelaki itu adalah suaminya (katanya).

Nah, di sana saya ngobrol dengan calon pembeli sambil menunggu si penjual. Dia mulai berbicara tentang pengalaman dia kerja di sana sini, dan menyebut bahwa dia bekerja di perusahaan jasa sewa mobil untuk korporasi/ perusahaan.

Saat mengobrol sebentar, satu lelaki (suaminya) hilang entah kemana sebelum si penjual mobil datang. Jadi tinggal saya dan calon pembeli dan lelaki itu saja yang ada di TKP.

Si calon pembeli juga sempat bilang bahwa mobil itu dihadiahkan dari bos-nya karena dia bekerja sangat baik, sehingga dapat THR berupa reward untuk membeli mobil. Saya sih belum curiga sampai sini, tapi saya benar-benar memperhatikan setiap apa yang terjadi di tempat bertemu dan kata-kata si perempuan tersebut.

Si pembeli itu akhirnya dapat telepon dari bos-nya, saya dengar suara lelaki yang berbicara (berarti bos-nya lelaki). Kebetulan dia duduknya kan hanya bersebrangan dan hanya dibatasi meja, jadi telinga saya ini masih cukup peka dan jelas untuk mendengar suara kecil, tapi tidak dengar apa yang diucapkan bos-nya.

Dari sini saya juga belum curiga.

Akhirnya, si penjual datang dan mulai melihat kelengkapan surat, negosiasi, dan cara over kredit. Si pembeli sempat beberapa kali berbicara dengan bos-nya. Nah, si penjual maunya over kredit di hadapan leashing, sedangkan si pembeli maunya over kredit bawah tangan dengan cara memberikan surat perjanjian palsu dari notaris tanpa sepengetahuan pihak leashing.

Karena ini pertama kalinya saya terlibat dalam penjualan over kredit, saya pun tidak tahu yang seperti apa yang benar dalam melakukan over kredit.

Dalam kasus ini yang benar adalah cara si penjual, karena si penjual maunya take over kredit di leashing. Berarti pihak leashing tahu bahwa mobil sudah berpindah tangan ke si pembeli itu, jadi jika suatu saat si pembeli tidak bayar angsuran maka si pembeli yang ditagih oleh orang leashing, bukan si penjual.

Berbeda jika over kredit di bawah tangan dengan surat perjanjian palsu notaris, yang memang pada dasarnya juga tidak ada prosedur semacam itu. Maka, jika si pembeli tidak membayar angsuran maka yang ditagih tetap si penjual mobil. Bahaya, kan?

Sebelum deal, si pembeli itu sempat membicarakan urusan bisnis, jadi kalau ada yang mau over kredit silahkan hubungi dia karena bisa dapat komisi sebesar 1 juta. Wah, saya dan penjual mobil pun tertarik dong, karena ini berbicara hubungan bisnis. Si pembeli bilang, katanya butuh banyak unit mobil sejenis mobil keluarga.

Ok, lah anggap saja pertemuan hari itu ditutup dengan persetujuan.

Kecurigaan saya mulai muncul saat di perjalanan pulang. Saya sempat berpikir tentang obrolan bisnis tadi,

“Butuh mobil banyak, kok aneh ya? Apa perusahaan ga punya limit kendaraan?”.

Tapi, karena saya tidak tahu dasarnya, jadi ya sudahlah mungkin apa yang dikatakan pembeli memang benar.

Besoknya, saya disuruh datang ke tempat pertemuan berbeda oleh si penjual. Saya kira urusan saya sebagai perantara sudah selesai, ternyata saya disuruh datang untuk tanda tangan sebagai saksi katanya. Ok lah demi mengejar komisi dari penjualan, saya pun berangkat ke tempat pertemuan.

Saya sempat salah lokasi karena ada dua lokasi yang sama, untung saja saya tanya ke pegawai sana, dan benar ternyata ada dua merchants dan lokasinya di blok berbeda. Yasudah saya langsung berangkat ke lokasi yang sudah ditentukan.

Sesampainya di lokasi, saya langsung bertemu dengan si pembeli, sedangkan si penjual masih perjalanan karena surat kontrak dengan leashing sempat tertinggal di rumahnya.

Sambil menunggu si penjual mobil, saya berinisiatif dan antusias menanyakan masalah jual beli mobil dengan komisi 1 juta itu. Apalagi saya ada teman yang memang bergelut di usaha jual/ beli mobil, jadi saya sangat semangat menawarkan ke si pembeli tersebut.

Ternyata, si pembeli hanya mau menerima pembelian mobil secara over kredit, jadi tidak mau ambil mobil bekas dan kredit dari awal.

Lalu saya bilang seperti ini, “kan bisa kredit juga mbak di teman saya itu”.

Lalu kata si pembeli, “duh repot kalau harus urusin kredit lagi, ada biaya ini dan itu”.

Dari perbincangan tersebut saya mulai curiga, dan saya semakin curiga lagi karena mereka tidak berpuasa padahal mereka muslim (katanya). Saya ini cenderung menilai perilaku orang, kalau buruk biasanya akhlak-nya juga buruk. Kurang lebih seperti itu lah penilaian saya terhadap mereka.

Akhirnya si penjual datang.

Mereka masih masih membicarakan tentang take over kredit. Si penjual tetap maunya di leashing, tidak hanya tanda tangan di surat perjanjian yang tidak jelas itu.

Ya, akhirnya dengan berat hati si pembeli menyetujui dan mulai mengeluarkan beberapa dokumen seperti fotocopy KTP si bos dan kelengkapan lainnya yang berkaitan dengan si bos.

Saat itu saya tidak terlalu jelas melihat fotonya, tapi si pembeli bilang “Ini atas nama bu (sebut nama bos), ya?”.

Wah, saya makin curiga dong. Dalam hati saya berbicara sendiri “Perasaan waktu kemarin yang nelpon itu jelas-jelas suara lelaki, bukan perempuan.”

Sampai di sini proses transaksi terus dilanjutkan, bahkan si penjual sudah tanda tangan di atas surat perjanjian yang tidak jelas itu, bahkan suratnya terlihat kumal.

Oh ya, di sini ada tambahan satu orang. Jadi saat bertemu si pembeli, mereka datang empat orang.

Karena saya rasa sudah deal dan urusan saya sebagai calo sudah selesai, saat itu juga saya pamit pulang. Sedangkan penjual dan pembeli berangkat ke lokasi leashing untuk melakukan take over kredit.

Saat perjalanan pulang pikiran saya berkecamuk, “wah jangan-jangan ini penipuan”, kata saya dalam hati.

Sesampainya di rumah saya langsung browsing mengenai modus penipuan over kredit mobil. Saya menemukan salah satu korban yang bercerita di forum kaskus, silahkan baca di https://www.kaskus.co.id/thread/55cb0f16902cfe62268b457a/masalah-over-kredit-mobil-di-bawah-tangan/.

Saya semakin curiga, dan saya semakin tidak tenang, lalu saya hubungi si penjual tapi chat saya tidak deliver.

Saya langsung hubungi istrinya dan alhamdulillah, chat saya deliver dan direspon cepat.

Saya berpesan kepada istri si penjual, “Mbak, itu pembelinya ikut ke leashing kan? Karena orang leashing harus tahu orangnya”.
Si istri penjual pun membalas “iya dong, kita juga ga sembarangan”.
Saya balas lagi “Ok deh mbak, saya cuma khawatir aja, yakut kenapa2 nantinya”.

Saya sempat menelpon si penjual juga karena saya memang panik, kalau sampai terjadi penipuan saya bisa merasa bersalah karena sudah membawa seorang penipu, astagfirullah.

Saya di rumah uring-uringan, dan benar saja saya dapat pesan chat dari istri si penjual bahwa si pembeli itu cuma player/ pelaku penipuan. Apalagi dari keempat orang itu sama sekali tidak punya KTP asli, saat diminta oleh pihak leashing.

Kecurigaan saya ternyata benar, puji syukur kepada Allah SWT melindungi saya dan si penjual dari modus penipuan over kredit mobil.

Perasaan saya saat itu kaget, Alhamdulillah tidak terjadi hal buruk. Yang saya bisa lakukan saat itu langsung menghadap Allah, mengucap syukur sedalam-dalamnya dan entah harus saya bayar dengan apa kebaikan Allah terhadap saya. Padahal saya murni ingin mencari rezeki dari hasil jual mobil itu, tapi ternyata ada saja oknum yang ingin memanfaatkannya untuk menjalankan aksi penipuan.

Padahal saya juga sudah berkeinginan untuk beli Blender untuk istri, jika saya dapat komisi dari si penjual. Tapi, Alhamdulillah saya dan penjual dilindungi Allah SWT sehingga meodus penipuan tersebut tidak sampai menimpa kami.

Bila saja terjadi, saya akan merasa bersalah karena sudah mengantarkan seorang penipu untuk membeli mobilnya. Saya ikhlas bolak balik tidak dapat komisi, yang penting si penjual tidak terkena tipu daya si penipu. Alhamdulillah! Karena bagi saya, jika si penjual tertimpa modus si penipu maka saya akn merasa bersalah dan entah bagaimana saya mempertanggungjawabkannya jika hal itu terjadi, Na’udzubillahi mindzalik.

Jadi, untuk anda yang ingin over kredit mobil, sebaiknya lakukan akad di depan leashing langsung. Karena jika anda over kredit tanpa sepengetahuan pihak leashing, anda sudah melanggar perjanjian dengan leahing yang kuat di mata hukum. Tagihan tetap ditujukan kepada anda, asuransi tidak mau mengklaim pengajuan anda, pihak leashing juga tidak mau tahu, dan bahkan polisi pun akan kesulitan dalam turut campur dalam kasus ini jika sudah terjadi.

Semoga bermanfaat!!!

2 Responses

  1. yudha says:

    Maaf, abang.. mau tanya.
    Setelah “si penjual sudah tanda tangan di atas surat perjanjian yang tidak jelas itu, bahkan suratnya terlihat kumal.” kenapa si calon Pembeli malah pergi ke leasing, bang? bukankah itu malah membuat proses penipuannya malah gagal?

    sebelumnya trimakasih banyak u/ pengalamannya, semoga banyak orang yang terbantu.. sehinggapahala mengalir.aamiin

    • Kemungkinan si pelaku berupaya lebih meyakinkan si penjual gan, makanya mereka terpaksa ikut ke leashing.

      Intinya, si pelaku mungkin merasa bisa mengelabui pihak leashing dengan copy KTP yg ga jelas itu milik siapa, sedangkan pemilik KTP tersebut tidak hadir di hadapan leashing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *